Print

KOTA PROBOLINGGO ALAMI DEFLASI 0.05 PERSEN PADA JULI

8ea098f0 c31b 44f5 8088 75c7b57ceadb

Probolinggo, 14/8/2019 - Hasil rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Probolinggo, Rabu (14/8) di Radio Suara Kota FM, bulan Juli 2019, Kota Probolinggo mengalami deflasi sebesar 0,05 persen. Kepala BPS, Adenan menjelaskan, deflasi Kota Probolinggo bulan Juli 2019 terjadi karena dari 7 (tujuh) kelompok pengeluaran, empat kelompok mengalami inflasi, dua kelompok mengalami deflasi dan 1 kelompok tidak mengalami perubahan.

Hal itu, menurut pria asal Lamongan itu, hal tersebut dapat dilihat adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks harga pada kelompok bahan makanan sebesar 0,45 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau sebesar 0,40 persen, kelompok sandang sebesar 0,80 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,75 persen.

Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks harga adalah kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,02 persen dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 1,71 persen sedangkan kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar tidak mengalami perubahan indeks harga.

712cf84b dc1e 4bc6 ae70 074b5c3d6fceHal itu berbanding terbalik dengan respon warga. Seperti yang diutarakan Manik, warga Ketapang yang menyebut, meskipun mengalami deflasi namun harga cabai rawit masih terbilang tinggi di pasaran. "Cabai rawit dan daging ayam kampung, mahal dan cukup berimbas," katanya.
Pernyataannya ini juga diamini warga lain, yang juga turut menyimak press release siang tadi.

Menanggapi hal itu, Penjabat Sekretaris Daerah yang sekaligus Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Probolinggo A. Sudiyanto, melalui Kepala Bagian Administrasi Perekonomian Setda Kota Wawan S. yang didampingi Kepala Bidang Perdagangan pada DKUPP mengatakan, bulan Juli lalu harga cabai rawit sempat melambung hingga menembus angka Rp.50.000 per kilogram. Hingga Agustus ini, harga cabai rawit belum berangsur turun, bahkan mencapai harga Rp.85.000 per kilogram.

"Komoditas cabai rawit memang mengalami kenaikan harga yang signifikan pada Juli 2019 dan kenaikan tersebut karena faktor masa tanam yang lewat serta minimnya pasokan dari petani, sehingga stok cabai di pasaran terbatas," katanya.
Sementara itu, melihat fenomena kenaikan harga pada cabai rawit di sejumlah daerah di Jawa Timur, Ratu H. Balqis mewakili BI Malang menuturkan, jika pasokan cabai rawit sedikit maka harga akan mahal. Panjangnya rantai distribusi juga mengakibatkan rentang harga dari petani sampai ke konsumen cukup jauh.

"Itu sudah hukum alam. Namun bagaimana kita tetap bijak mengendalikan daya konsumsi dan mengupayakan solusi, itu yang terpenting. Nah disini TPID dalam hal ini salah satunya bertugas melakukan rapat koordinasi wilayah, untuk membicarakan harga cabai rawit dan berkoordinasi antar daerah di sekitarnya, sehingga didapatlah sebuah solusi," ujarnya.

Balqis menambahkan, menyikapi hal ini pihaknya pun melakukan survey perihal harga cabai di pasaran, utamanya Probolinggo dan Malang sebagai sentra cabai di daerah. Sehingga diketahui apa penyebab dan kenapa harga cabai rawit bisa bergejolak, naik dan turun sehingga kerap menjadi penyebab inflasi dan deflasi. (Sonea)

Informasi Publik

brs      siaran pers

Info Harga Bahan Pokok

harga sembako suara kota
harga sembako siskaperbapo

Perkembangan Inflasi

Bulan TahunTingkat Inflasi
Juni 2019 3.28 %
Mei 2019 3.32 %
April 2019 2.83 %
Maret 2019 2.48 %
Februari 2019 2.57 %
Januari 2019 2.82 %
Desember 2018 3.13 %
Nopember 2018 3.23 %
Oktober 2018 3.16 %
September 2018 2.88 %
Agustus 2018 3.20 %
Juli 2018 3.18 %
Juni 2018 3.12 %