Print

LAGI, KOTA PROBOLINGGO ALAMI DEFLASI DI BULAN MARET 2019

Probolinggo, 11/4/2019 - Turunnya harga beras dan daging ayam ras menjadi pemicu terjadinya deflasi bulan Maret 2019 di Kota Probolinggo. Hal itu berdasarkan rilis dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada bulan Maret 2019, Kota Seribu Taman mengalami deflasi sebesar 0,12 persen.

Deflasi ditunjukkan dengan terjadinya penurunan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 129,59. Dimana laju inflasi tahun kalender sampai dengan bulan Maret 2019, mengalami deflasi sebesar 0,14 persen. Sedangkan laju inflasi year on year (yoy) (Maret 2019 terhadap Maret 2018) sebesar 1,57 persen.

Dari delapan kota IHK di Jawa Timur, tiga kota mengalami deflasi dan sisanya inflasi. Deflasi terbesar terjadi di Kota Probolinggo sebesar 0,12 persen, disusul Kabupaten Sumenep sebesar 0,07 persen dan deflasi terkecil terjadi di Kabupaten Jember sebesar 0,06 persen. Kota-kota yang mengalami inflasi antara lain Kota Madiun sebesar 0,14 persen, Kota Surabaya sebesar 0,15 persen, Kota Kediri sebesar 0,16 persen, Kabupaten Banyuwangi sebesar 0,17 persen dan inflasi tertinggi terjadi di Kota Malang sebesar 0,36 persen.

Deflasi pada bulan Maret 2019 dipicu oleh turunnya harga pada komoditas beras, jeruk, ikan kembung, daging ayam ras, telur ayam ras, ikan tongkol, cumi-cumi, bensin, tarif listrik, terong panjang dan lain-lain. Harga beras disampaikan Kepala Bulog Subdivre Probolinggo, Heriswan melalui wakilnya, Volta Arestra Adi Prasetyo, turut memicu deflasi karena memasuki masa panen raya di bulan Maret. “Karenanya, harga beras di tingkat konsumen turun. Namun penurunannya tidak terlalu signifikan, yakni berkisar pada seratus sampai dua ratus rupiah per kilogramnya,” katanya.

Selain itu, komoditas yang turut menyumbang terjadinya deflasi adalah bensin. Adenan menerangkan, hal ini merupakan dampak lanjutan dari kebijakan pemerintah menurunkan harga premium per Februari lalu.

Sedangkan komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi meliputi upah pembantu rumah tangga, bawang putih, emas perhiasan, biskuit, daging ayam kampung, kelapa, bawang merah, jagung muda, cat tembok, daging kambing dan lain-lain.

Kenaikan tarif upah pembantu meningkat seiring dengan bertambahnya masa kerja pembantu yang bekerja di rumah tangga. Komoditas bawang putih juga menjadi penyumbang terjadinya inflasi dikarenakan keterbatasan ketersediaan komoditas tersebut di pasaran.

Sementara itu, Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang, Siti Senorita yang juga menghadiri rilis siang ini, mengimbau supaya Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) melakukan langkah-langkah strategis di bulan April kali ini, mengingat bulan depan sudah menjelang bulan Puasa (Ramadhan). Selain itu, pelaksanaan Pemilu serentak 17 April 2019 juga diprediksi memicu kenaikan harga komoditas pangan.

“Tapi demikian, Kota Probolinggo sudah punya “sangu” dari trimester pertama tahun ini. Saya yakin proyeksi (inflasi pada bulan April 2019) tetap stabil,” ungkapnya.

Rilis perkembangan IHK/inflasi Kota Probolinggo bulan Maret 2019, dipimpin Kepala Bagian Administrasi Perekonomian, Wawan Soegiantono mewakili TPID. Tampak pula Tim Satgas Pangan dari Polresta, Bulog Sub Divre VIII Probolinggo, dan perwakilan dari OPD terkait, diantaranya Dinkes, Dinas Pertanian, Dinas Perikanan dan DKUPP. 

Informasi Publik

brs      siaran pers

Info Harga Bahan Pokok

harga sembako suara kota
harga sembako siskaperbapo

Perkembangan Inflasi

Bulan TahunTingkat Inflasi
April 2019 2.83 %
Maret 2019 2.48 %
Februari 2019 2.57 %
Januari 2019 2.82 %
Desember 2018 3.13 %